Bertemu Investor di WEF 2020, Menperin Agus Ungkap Berbagai Potensi RI

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kanan) bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri) dan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto (tengah) menjadi narasumber pada rangkaian kegiatan World Economic Forum (WEF) 2020 di Davos, Swiss, Rabu (22/1/2020).

 

DAVOS -Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita aktif menyampaikan tentang beragam potensi Indonesia dalam upaya pengembangan industri manufaktur. Hal ini diungkapkannya ketika melakukan pertemuan dengan sejumlah pelaku industri skala global, seperti Nestlé dan Amazon Web Services,Inc.,pada rangkaian kegiatan World Economic Forum (WEF) 2020 di Davos, Swiss.

“Salah satu kepentingan kami adalah mencari investor yang potensial. Kami sampaikan, Indonesia punya kekayaan sumber daya alam dan pasar yang sangat besar,’’ujar Menperin Agus, sesuai keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu (22/1/2020).

Apalagi lanjut Agus, pemerintah saat ini bertekad untuk memacu daya saing sektor manufaktur, terutama dalam kesiapan memasuki era industri 4.0.

Adapun sektor-sektor industri yang dibidik adalah sesuai dengan prioritas peta jalan Making Indonesia 4.0, yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia, serta industri elektronik.

“Kami lakukan pendekatan dengan calon investor yang masuk dalam lima sektor tersebut, karena dari sektor itu bisa berkontribusi hingga 60% ke PDB, ekspor dan tenaga kerja,” imbuh Agus.

Kata Agus, masuknya investasi dari sektor industri tersebut diyakini dapat memperkuat struktur manufaktur di dalam negeri sekaligus menghasilkan produk substitusi impor dan memacu ekspor. “Aktivitas industrialisasi selama ini memberikan multiplier effect yang luas bagi perekonomian, seperti peningkatan pada nilai tambah bahan baku, penyerapan tenaga kerja, dan penerimaan devisa,” sebutnya.

Menurut Agus, para calon investor kini mulai tertarik mengincar Indonesia sebagai negara tujuan utama investasi karena mereka melihat adanya perubahan dan pembaruan kebijakan yang dapat memudahkan dalam menjalankan usaha. Contohnya mengenai rencana penerbitan omnibus law.

“Ada sekitar 11 klaster yang dibahas dalam RUU omnibus law Cipta Lapangan Kerja. Ada klaster-klaster yang membuat Indonesia menjadi negara yang menarik bagi calon investor. Misalnya tentang mengatur adanya penyediaan lahan yang lebih mudah, dan tentang ketenagakerjaan. Regulasi ini sangat penting, yang membuat Indonesia semakin atraktif bagi calon-calon investor,”pungkas Agus. (Lili)

671 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *