Industri TPT, Industri Strategis yang Perlu Dukungan SDM Kompeten

JAKARTA- Industri tekstil dan produk tekstil (TPT ), salah satu sektor yang memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan  ekonomi nasional. Terkait kontribusi yang besar tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin)  telah menjadikan industri TPT, salah satu sektor yang menjadi prioritas pengembangannya.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Indusstri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian, Eko S.A Cahyanto pada pembukaan Diklat 3 in ! Operator Mesin Industri Garmen Berbasis Kompetensi Angkatan 1,2 dan 3 yang diselenggarakan  di Balai Diklat Industri (BDI)  Jakarta, Senin (20/1/2020).

Menurut Eko lebih lanjut, industri TPT menjadi salah satu industri yang diprioritaskan dalam pengembangannya, karena sektor industri tersebut memiliki peran yang cukup strategis dalam proses industrialisasi.

‘’’Dikatakan sektor industri  ini strategis dalam proses industrialisasi, karena produk yang dihasilkan mulai dari bahan baku (serat) sampai dengan barang konsumsi (pakaian jadi) mempunyai keterkaitan baik antar industri maupun sektor ekonomi lainnya,’’ujar Eko.

Industri TPT yang menjadi salah satu sektor  strategis dalam pengembangannya, kata Eko telah menarik minat  para investor  mau menanamkan modalnya di Indonesia. Diantaranya investor yang tertarik berinvestasi di sektor industri TPT ini, adalah  Jepang dan China.

‘’Investor asing seperti dari Jepang dan China ini, diperkirakan pertengahan tahun 2020 akan merealisasikan investasinya di sektor industri TPT di Indonesia. Adapun besaran nilai investasinya berdasarkan informasi dari  API (Asosiasi Pertekstilan Indonesia) mencapai 500 juta Dolar AS,’’jelas Eko.

Menurut Eko, adanya peluang investasi asing di sektor industri TPT ini, tentu perlu adanya dukungan, yaitu ketersediaanya SDM yang kompeten di sektor industri tersebut.

Industri TPT nasional saat ini, sedang menghadapi beberapa permasalahan, antara lain belum memadai SDM Industri yang kompeten, pengenaan PPn untuk bahan baku kapas dan masih bergantung pada impor.

‘’Permasalahan lainnya, yaitu industri pendukung yang kurang berkembang,stagnasi ekspor, impor produk tekstil illegal, serta permasalahan harga gas dan listrik pada industri hulu tekstil (pembuatan serat),’’tuturnya.

Eko menambahkan, untuk mengatasi permasalahan tersebut, Kemenperin telah mengambil  beberapa langkah kebijakan. Diantaranya, penguatan pendidikan vokasi untuk penyediaan SDM industri TPT yang berkompeten, menyiapkan regulasi khusus untuk industri padat  karya berorientasi ekspor, seperti pemberian isentif fiskal dan juga pengembangan kerjasama dengan pasar non tradisional, dalam rangka memperluas ekspor.

Selenggarakan Diklat 3 in 1

Kepala Balai Diklat Industri (BDI) Jakarta, Hendro Kuswanto dalam laporannya menyampaikan, BDI Jakarta sejak tahun 2014 melalui program diklat 3 in 1 telah melatih tenaga kerja industri sebanyak 30 ribu orang.

‘’Dari jumlah lulusan program pelatihan tersebut yang paling terbanyak di program pelatihan menjahit,’’imbuh Hendro.

Hendro melanjutkan, ke depannya BDI Jakarta, selain sebagai pusat pendidikan dan pelatihan yang paling unggul, juga akan menjadi pusat informasi   edukasi yang bermanfaat bagi industri, lembaga pendidikan, lembaha pelatihan lain serta masyarakat umum dengan menghadirkan Edu Wisata melalui konsep one stop learning

Adapun rencana pengembangan yang dilakukan BDI Jakarta, jelas Hendro meliputi , pertama, pengembangan fasilitas workshop menjahit dengan hanger system dan mini plant. Kedua, pengembangan library bahan baku dan produk TPT sebagai pusat informasi tekstil dan produk tekstil.. Ketiga, pengembangan working space dan rumah produksi.

Pada kesempatan itu Hendro mengemukakan, pada tahun anggaran 2020 ini, BDI merencanakan akan melatih sebanyak 7000  orang tenaga  industri garmen yang berkompeten.

‘Adapun program Diklat 3 in 1  untuk angkatan 1,2 dan 3 pada tahun angggaran 2020 ini, jumlahnya 300 peserta. Pada akhir pelaksanaan Diklat, nantinya akan diadakan uji kompetensi oleh LSP BDI Jakarta. Bagi yang dinyatakann lulus uji kompetensi akan diberikan sertifikasi kompetensi dari Badan  Nasional Sertifikasi Profesi.. Selanjutnya, setelah mengikut pelatihan peserta tersebut akan di tempatkan di beberapa perusahaan yang telah menjalin kerjasama dengan BDI Jakarta .

‘’Para lulusan Diklat 3 in 1 di BDI Jakarta ini diharapkan mampu memberikan konstribusi bagi perusahaan dan membantu meningkatkan daya saing perusahaan’’’pungkas Hendro. (Lili)

 

524 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *