Ekspor Produk Elektronika Lokal Terus Digenjot

Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kemenperin, R. Janu Suryanto bersama Dirjen ILMATE Kemenperin, Harjanto melihat produk elektonika buatan industri dalam negeri saat pameran produk elektroika di Plasa Kemenperin, Jakarta Selasa (15/10/209)..

 

JAKARTA. Penurunan impor produk elektronik pada tahun 2019   menjadi momentum yang baik untuk memperbaiki kinerja neraca perdagangan di sektor tersebut. Selain itu, Kemenerin juga gencar memacu industri elektronika dalam negeri dapat memperluas akses pasarnya ke mancanegara.

Hal tersebut disampaikan Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kemenperin, R. Janu Suryanto kepada wartawan, di Jakara, Selasa (15/10/2019).

“Kami terus mendorong ekspor produk elektronik lokal. Salah satu produk, berupa air purifier, hasil karya perusahaan nasional sedang dalam masa percobaan untuk ekspor ke Amerika Serikat,” ujar Janu.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pada Januari-Agustus 2019, nilai ekspor mesin/peralatan listrik mencapai 5,55 miliar Dolar AS. Sedangkan, nilai impor mesin/peralatan listrik mencapai 12,60 miliar Dolar AS atau menurun sekitar 10,97% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Pada triwulan terakhir 2019, Janu mengatakan, pihaknya masih optimistis mengejar peningkatan ekspor produk elektronika. Pasalnya, sejumlah perusahaan industri elektronika di Batam, seperti PT Satnusa Persada dan PT Pegatron Technology Indonesia, baru-baru ini mendapatkan kontrak baru untuk memasok produknya ke Amerika Serikat.

“Peluangnya masih terbuka karena berkurangnya pasokan produk elektronika dari China ke Amerika Serikat. Selain itu, PT Panasonic Manufacturing Indonesia baru-baru ini memperluas basis ekspornya ke Taiwan. Bahkan, LG Electronics Indonesia, juga berencana untuk memasok AC portable ke Amerika Serikat dalam jumlah yang besar,” paparnya.

Lebih lanjut, Janu menegaskan, pemerintah juga fokus mendorong industri elektronik di dalam negeri agar tidak hanya terkonsentrasi pada perakitan, tetapi juga terlibat dalam lingkaran rantai pasok bernilai tambah tinggi. Langkah strategis ini diwujudkan antara lain melalui peningkatan investasi.

Sepanjang tahun 2018, nilai investasi industri elektronik menyentuh di angka Rp12,86 triliun, naik dibanding tahun 2017 sebesar Rp7,81 triliun. “Tahun ini, ditargetkan ada beberapa investasi baru yang akan masuk, yang secara total nilainya mencapai Rp1,3 triliun dengan proyeksi penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan sebanyak 248,5 ribu orang,” ungkapnya.

Janu mengemukakan, investor tersebut di antaranya dari industri semikonduktor dan komponen elektronik, industri peralatan listrik rumah tangga, industri komputer, barang elektronik, dan optik, serta industri peralatan teknik. Mereka itu, di antaranya PT Sammyung Precision Batam, PT Simatelex Manufactory Batam, PT Pegatron Technology Indonesia, dan PT Siix Electronics Indonesia. (Lili)

 

594 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *