Kebutuhan Tenaga Kerja di Industri Garmen akan Bertambah Terus

Kapusdiklat Industri Kemenperin, Jonni Afrizon didampingi Ketua Umum API (Asosiasi Perstektilan Indonesia), Ade Sudrajat dan Kepala BDI Jakarta, Hendro Kuswanto secara resmi melepas tanda kepesertaan Diklat Operator Mesin Industi Garmen Berbasis Kompetensi, di kantor BDI Jakarta.

JAKARTA- Asosiasi  Perstektilan  Indonesia (API) memperkirakan kebutuhan tenaga kerja di sektor industri garmen dan tekstil akan terus meningkat. Sementara ini tenaga kerja yang terserap di sektor industri tersebut sekitar 3 juta orang.

‘’Adanya penambahan permintaan tenaga kerja di sektor industri garmen dan tekstil itu, dikarenakan adanya informasi sejumlah investor dari China berkeinginan berinvestasi di Indonesia. Mereka mengalihkan investasinya ke Indonesia ini, terkait adanya perang dagang antara China dengan Amerika Serikat (AS). Kondisi ini  menyulitkan pelaku industri garmen dan tekstil China untuk menyual produknya seperti ke AS, karena kena bea masuk yang tinggi,’kata Ketua Umum API, Ade Sudrajat kepada wartawan di sela-sela penutupan Diklat Operator Mesin Industri Garmen Berbasis Kompetensi angkatan 25, 26 dan 27,di BDI Jakarta, Jum’at (4/10/2019).

Ade melanjutkan, solusi mereka untkuk melanjutkan bisnis industri garmen dan tekstilnya itu,dipilih Indonesia sebagai tempat untuk menanam modal. Sementara untu investasi di Vietnam sudah jenuh.

‘’Rencana masuknya investor baru  asal China ini tentu peluang bagi tenaga kerja Indonesia untuk ambil bagian dalam kegiatan industri tersebut,’’ujarnya.

Menurut Ade, para investor itu pada umumnya, mereka lebih suka tenaga kerja yang siap pakai atau siap bekerja,tanpa mengadakan diklat terlebih dahulu.

Adapun pelaku industri garmen  di dalam yang sudah beroperasi selama ini, ucap Ade, dalam pemenuhan tenaga kerja siap pakai atau kompeten mengandalkan lulusan Diklat yang diselengarakan Kementerian Perindusrian melalui BDI (Badan Diklat Industri).

‘’Industri  garmen nasional pada umumnya mengaku tertolong tertolong atas ketersediaan tenaga kerja industri  kompeten,  yang disiapkan Kementerian Perindustrian (Kemenpern) melalui kegiatan pelatihan yang diselenggarakan Balai Diklat Industri (BDI).Adapun kerjasama API dengan Kemenperin itu sendiri sudah berlangsung 4 tahun.,’’papar Ade.).

‘’Lulusan Diklat yang diselenggarakan BDI pada umumnya sudah terserap bekerja di industri garmen. Bahkan dalam tiga tahun terakhir ini lulusan Diklat yang diselenggarakan Kemenperin yang sudah bekerja di industri garmen  diperkirakan sekitar 70 ribu orang’’ujar Ade.

Karena itu,tambah Ade, kegiatan Diklat operator mesin garmen berbasis kometensi seperti yang diselenggarakan BDI Jakarta ini sangat membantu para nvestor akan kebutuhan tenaga kerja yang siap pakai.

Selain itu, kegiatan Diklat ini sangat positif, karena mampu mengurangi pengangguran. Buktinya para lulusan Diklat tersebut pada umumnya sudah diterima bekerja di industri.

Kepala Pusdiklat Industri Kemenpern, Jonni Afrizon menyatakan Pusdiklat Industri siap membantu  kalangan industri dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri yang kompeten.

‘’Melalui   program Diklat  3 in 1 (pelatihan, sertifikasi dan penempatan kerja) ini mudah-mudahan sedikit banyak bisa membantu industri dalam kebutuhan tenaga kerja yang terampil dan ahli dibidangnya.Para peserta Diklat ini dikatakan kompeten, karena mereka mengikuti uji kompetensi dan dinyatakan lulus yang dibuktikan dengan sertifkat kompetensi itu sendiri  ,’ujar Jonni.

Pada kesempatan itu Jonni, pada tahun 2019 ini Pusdiklat Industri melalui 7 BDI yang ada telah menyelengarakan program Diklat 3 in 1 yang diikuti sekitar 70 ribu lebih peserta. Seluruh peserta Diklat tersebut sudah terserap di beberapa industri yang menjalin kerjasama dengan BDI.  Adapun untuk anggaran tahun 2020, phaknya  mengusulkan jumlah peserta Diklat sebanyak 100 ribu peserta. (Lili)

 

623 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *