Industri Mamin di Indonesia Miliki Potensi Pertumbuhan yang Besar

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Abdul Rochim. memberkan etrangan kepada watawan terkait perkembangan industri makanan dan minuman.di dalam negeri.

PASURUAN -Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan industri minuman di dalam negeri agar lebih berdaya saing global, terutama dalam menghadapi era industri 4.0. Sebab, berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri makanan dan minuman merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang diandalkan dalam menopang perekonomian nasional.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Abdul Rochim mengatakan,pemerintah bertekad menciptakan iklim investasi yang kondusif di Tanah Air. Berbagai upaya strategis telah dijalankan, antara lain memberikan kemudahan izin usaha serta memfasilitasi insentif fiskal dan nofiskal.

’’Industri minuman menjadi sektor yang mampu menyumbang cukup signifikan bagi penerimaan devisa. Misalnya, terlihat dari realisasi investasi sektor industri minuman sepanjang semester I tahun 2019 mencapai Rp1,43 triliun untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN),’’ujar Abdul Rochim pada Peresmian Lini Produksi Surabaya Plant di Pabrik Coca Cola Amatil Indonesia (CCAI) Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (3/10).

Abdul Rochim melanjutkan sementara penanaman modal asing (PMA) sebesar 68,72 juta Dolar AS.  Karena itu, kata Abdul Rochi,dalam upaya peningkatan investasi, pemerintah telah memberikan fasilitas fiskal, di antaranya tax allowance dan tax holiday.

‘’ Melalui insentif tersebut, diharapkan terjadi peningkatan investasi di sektor industri,” tuturnya.

Rochim menambahkan, industri minuman di dalam negeri secara keseluruhan masih menunjukkan kinerja yang positif. Ini tercermin dari pertumbuhannya pada semester I tahun 2019 sebesar 22,74%.

“Sektor industri makanan dan minuman (Mamin) di Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang besar karena didukung oleh sumber daya alam yang berlimpah dan permintaan domestik yang besar,” ungkapnya.

Kemenperin mencatat, industri makanan dan minuman konsisten sebagai kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Pada paruh tahun ini, industri makanan dan minuman tumbuh mencapai 7,4% dan berkontribusi hingga 36,23% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.

“Untuk realisasi investasinya pada semester I tahun 2019, nilai PMA industri makanan dan minuman sebesar 687,91 juta Dolar AS, sedangkan nilai PMDN sebesar Rp20 triliun,” ujarnya. (Lili)

 

328 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *