MENATAP MASA DEPAN TUMBILOTOHE, PESONA GORONTALO MENJELANG IDUL FITRI

JAKARTA — Karyawanti Samad termasuk warga Provinsi Gorontalo yang banyak mengunggah foto-foto Tumbilotohe melalui akun Facebook-nya. Tergambar, dia membanggakan tradisi ratusan tahun di daerahnya itu.

Provinsi Gorontalo memang banyak menyimpan daya tarik. Salah satu yang paling memukau adalah Tumbilotohe. Tradisi memasang lampu itu telah berusia ratusan tahun. Saat Tumbilotohe mulai, nyaris tak ada sudut kota yang tak terjamah cahaya lampu. Bahkan persawahan yang luas dan terbiasa kelam di saat malam, disulap menjadi arena kreatif. Area persawahan itu dipasangi ratusan lampu, membentuk formasi tertentu.

Formasi lampu paling populer sejauh ini, berupa masjid, kitab Al Quran, juga kaligrafi. Di tahun 2005, masyarakat Limboto menggemari formasi Menara Keagungan. Menara baja setinggi 30 meter itu dibangun di masa pemerintahan Bupati Achmad Hoesa Pakaya, mengingatkan pada bentuk Menara Eiffel di Paris, lengkap dengan lampu sorot di bagian puncaknya.

Tumbilotohe biasa digelar pada tanggal 27 hingga 29 Ramadan di malam hari. Di tanggal-tanggal itu pula penduduk Gorontalo kebanyakan mengisi waktu dengan berkeliling untuk menikmati suasana malam pasang lampu, bersama keluarga, usai Salat Tarawih.

Di malam Tumbilotohe, seluruh wilayah Provinsi Gorontalo mendadak semarak. Jutaan lampu menyala di sekeliling rumah penduduk, pagar pinggir jalan, hingga area persawahan atau lapangan. Bahkan halaman perkantoran, masjid, juga lapangan sepak bola. Sungguh sayang jika momentum penuh keindahan ini dilewatkan begitu saja.

Sebuah sumber menyebut, di masa lalu jumlah lampu yang dipasang mengikuti jumlah keluarga. Sehingga setiap orang memiliki lampu sendiri-sendiri. Pada perkembangan selanjutnya, jumlah lampu tidak lagi ditentukan oleh jumlah anggota keluarga, melainkan oleh kemampuan keluarga. Karena itu dapat saja sebuah keluarga memasang puluhan, bahkan ratusan lampu.

“Tumbilotohe pateyatohe, ta mohile jakati bubohe lo popatii,” kalimat bernada pantun ini kerap dinyanyikan anak-anak di malam Tumbilotohe. Suara-suara mereka menambah semarak suasana, sekaligus menghadirkan nuansa yang layak untuk dikenang.

Pemasangan lampu juga dilakukan pada perahu, disebut Tumbilotohe Tobulotu, atau pasang lampu di perahu. Sehingga kemeriahan tidak hanya terjadi di darat, akan tetapi juga di wilayah perairan.

Pada tahun 2007, Tumbilotohe dicatat Museum Rekor Indonesia (MURI). Di tahun itu Gorontalo dipimpin Gubernur Fadel Muhammad. Tercatat sebanyak 5.000.000 lampu menyemarakkan Festival Tumbilotohe yang digelar pemerintahan Fadel.

Malam Pasang Lampu

Sejumlah sumber yang dapat ditemukan menyebut, Tumbilotohe berasal dari bahasa Gorontalo. Tumbilo berarti pasang, dan Tohe berarti lampu. Tak heran, Tumbilotohe juga kerap disebut malam pasang lampu.

Diperkirakan, Tumbilotohe sudah dilaksanakan pada abad ke-15. Tradisi ini dilaksanakan pada 3 malam terakhir menjelang hari Raya Idul Fitri, yaitu pada tanggal 27 hingga 29 Ramadhan, mulai magrib hingga pagi hari.

Di masa lalu, wilayah yang kini Provinsi Gorontalo, berhutan-hutan hingga sangat gelap di malam hari. Jarak satu rumah dengan rumah lainnya terpaut cukup jauh, kadang-kadang teraling bukit.

Di malam hari bulan Ramadan, masyarakat memasang lampu-lampu ke arah masjid. Sebuah sumber menyebut, jumlah lampu kian banyak beberapa hari menjelang Idul Fitri. Tujuannya, agar warga makin mudah beribadah di masjid hingga berpotensi mendapatkan Lailatul Qadar.

Beberapa sumber meyakini, Tumbilotohe memang berkait erat dengan Lailatul Qadar. Pemasangan lampu diiringi harapan mendapatkan berkah malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan itu. Karena itu pula di zamannya, sebelum menyalakan lampu dalam Tumbilotohe masyarakat membaca Al Quran Surat Al Qadr.

Sumber lain menyebut, pemasangan lampu juga memudahkan warga yang hendak memberikan zakat fitrah di malam hari.

Pergeseran Jenis Lampu

Situs wikipedia.org menyebut, sekitar abad ke-15 penerangan masyarakat menggunakan wango-wango. Alat penerangan itu terbuat dari wamuta atau seludang yang dihaluskan dan diruncingkan, kemudian dibakar.

“Tahun-tahun berikutnya, alat penerangan mulai menggunakan tohe tutu atau damar yaitu semacam getah padat yang akan menyala cukup lama ketika dibakar. Berkembang lagi dengan memakai lampu yang menggunakan sumbu dari kapas dan minyak kelapa, dengan menggunakan wadah seperti kima, sejenis kerang, dan pepaya yang dipotong dua, dan disebut padamala,” dikutip dari wikipedia.org/wiki/Tumbilo_tohe.

Di zaman padamala, bahan bakar berupa minyak kelapa dapat diberi pewarna. Sumbu lampu ini menggunakan bahan kapas yang dipelintir. Biasanya ditempatkan dalam wadah kecil seukuran cangkir. Ketika dinyalakan, cahaya api berwarna sesuai bahan yang dicampurkan ke minyak kelapa.

Dari padamala lampu berganti menjadi botol berisi minyak tanah dengan sumbu yang biasanya terbuat dari sumbu kompor. Lampu-lampu minyak tanah itu dipasang pula di gapura khas Gorontalo, biasa disebut alikusu, terbuat dari batang bambu kuning berhias janur kuning.

Di atas gapura, alikusu, digantung buah pisang dan tebu. Buah pisang sebagai lambang kesejahteraan, tebu sebagai lambang keramahan dan kemuliaan menjelang Idul Fitri.

Selain lampu botol, ada juga masyarakat yang memasang lampu moronggo, terbuat dari bambu kuning berdiameter kecil. Liang bambu dipenuhi minyak tanah. Sumbu moronggo biasa terbuat dari kain atau sabut kelapa kering.

Di zaman lampau, Tumbilotohe kian semarak oleh dentuman bunggo, meriam bambu, yang biasa dimainkan anak-anak muda. Menjelang sahur, anak-anak muda mengarahkan meriam-meriam bambu ke rumah-rumah penduduk untuk membangunkan warga yang masih tertidur agar bersahur.

Dibayangi Kecemasan

Tahun ini Tumbilotohe dibayangi kecemasan. Pasokan minyak tanah dikhawatirkan kurang memenuhi kebutuhan. Beberapa waktu lalu Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparek) Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, Aznan Nadjamuddin mengatakan, pemerintah provinsi hanya menyediakan dua drum minyak tanah. Jumlah itu diperkirakan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan Festival Tumbilatohe.

Tahun ini Festival Tumbilatohe Kabupaten Bone Bolango dipusatkan di lokasi wisata Danau Perintis, Kecamatan Suwawa.

“Maunya Pak Bupati Tumbilatohe jangan didominasi lampu listrik karena Tumbilatohe itu berarti lampu tradisional pakai minyak tanah,” kata Aznan Nadjamuddin.

Terpisah, Kabid Pemasaran dan Promosi Sukriyanto Katili, membenarkan bahwa pemerintah provinsi hanya mendistribusikan sebanyak dua drum minyak tanah untuk masing-masing kabupaten dan kota se Provinsi Gorontalo. Menurutnya hal itu sebagaimana pernah disampaikan Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo.

“Penyampaian dari Pariwisata Provinsi Gorontalo sendiri, untuk jatah minyak tanah yang akan didistribusikan ke masing-masing kabupaten/kota untuk menunjang festival Tumbilatohe, itu sebanyak dua drum atau 400 liter,” papar Sukriyanto.

Akankah kendala pasokan minyak tanah menyebabkan terjadinya pergeseran pada Tumbilotohe, dari lampu minyak ke lampu listrik yang lebih praktis dan lebih berwarna-warni hingga makin semarak? Akankah Tumbilotohe bergeser dari tradisi bernuansa religius menjadi kebudayaan baru yang dipadati muatan hiburan?

Tampaknya hanya orang Gorontalo yang dapat menjawab. (dari berbagai sumber)

5,336 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *