TERNYATA FOTO PROKLAMASI DIBUAT ORANG MINAHASA

JAKARTA — Enam bulan setelah Soekarno-Hatta membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, barulah foto dokumentasi peristiwa penting itu muncul. Memang tidak banyak yang tahu siapakah fotografer yang mengabadikan peristiwa heroik itu. Begitu juga alasan yang menyebabkan foto dokumentasi proklamasi muncul enam bulan kemudian.

Penulis Rahayu Trisnaningsih dalam laman monumen pers nasional pada website resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika membeberkan bahwa, fotografer yang berjasa karena telah mengabadikan proklamasi adalah kakak-beradik asal Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara, Alex Impurung Mendur dan adiknya Sumarto Frans Mendur.

“Pada saat proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 dibacakan di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, Sumarto Frans Mendur dan Alex Impurung Mendur berhasil mengabadikan peristiwa sejarah tersebut melalui kamera Lecra miliknya,” tulis Rahayu.

Pemerintahan Militer Jepang yang berkuasa di Indonesia saat itu, tak ingin peristiwa proklamasi diketahui luar negeri. Tentara Jepang pun melakukan razia dan berhasil merampas kamera serta negative film milik Alex Impurung Mendur. Sebaliknya tentara Jepang tidak mendapati negative film milik Sumarto Frans Mendur.

Roll negative film milik Sumarto diselamatkan sang istri, Djamilah. Dia menyembunyikan dokumen sangat penting itu ke dalam karung goni dan kaleng minyak tanah. Djamilah mengubur barang-barang itu di kebun pisang belakang rumahnya di kawasan Petojo, Jakarta. Dia pun menyamarkannya dengan menanam pohon pisang.

“Selang enam bulan setelahnya, melalui Harian Merdeka, tiga buah foto proklamasi kemerdekaan Indonesia dipublikasikan untuk pertama kali tepatnya pada edisi tanggal 17 Februari 1946,” papar Rahayu.

Merantau ke Jawa

Frans Mendur lahir di Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara, tahun 1913. Saat berusia 14 tahun dia merantau ke Jawa. Tiba di Surabaya, Frans bertemu Suma. Orang Jawa itu mengangkat Frans sebagai anak dan menambahkan nama Sumarto. Sejak saat itu Frans Mendur lebih dikenal dengan nama Sumarto Frans Mendur, atau Sumarto Mendur.

Kakak Sumarto Mendur, Alex Impurung Mendur, lebih dahulu menekuni fotografi jurnalistik. Dia wartawan surat kabar Java Bode. Alex pula kemudian mengajari Sumarto Mendur tehnik-tehnik fotografi untuk jurnalistik.

Sebelum akhirnya mengikuti jejak sang kakak di usia 22 tahun, Sumarto sempat bekerja menjadi juru tulis di kantor Departement van Burgenlijke Openbare Werken (cikal bakal Departemen Pekerjaan Umum).

“Beliau juga pernah menjadi pimpinan Serikat Buruh Perusahaan Percetakaan ”De Unie”. Perusahaan percetakan tersebut berhasil direbut dan dijadikan alat perjuangan bangsa Indonesia dalam bidang penerangan yang selanjutnya menerbitkan ”Asia Raya” dan pada Sepetember 1945 dan berganti nama menjadi ”Harian Merdeka”,” catat Rahayu.

Tanggal 2 Oktober 1946 Sumarto Mendur, Alex Mendur, Justus Umbas, Frans ‘Nyong’ Umbas, Alex Mamusung dan Oscar Ganda mendirikan kantor berita IPPHOS (Indonesian Press Photo Service). Itulah kantor berita independen pertama di Indonesia.

Dalam tulisan Rahayu disebutkan, Sumarto Frans Mendur juga berperan langsung dalam pergerakan kemerdekaan di antaranya dengan memimpin Barisan Pelopor dan para pemuda di daerah Petojo Jakarta untuk melucuti senjata-senjata dari tangan perorangan tentara pendudukan Jepang menjelang dilangsungkannya Rapat Raksasa 19 September 1945 di Lapangan Ikada Jakarta.

Selain itu pada tahun 1946 Sumarto Mendur memimpin Front Laskar Rakyat Jakarta Raya di Yogyakarta, serta menjadi Ketua Umum Badan Perjuangan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS).

“Beliau turut serta dalam gerilya di seluruh front Jawa bersama Jenderal Soedirman,” tulis Rahayu. (kn)

2,420 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *