Pengamat : Rencana Merger PT. INKA dengan PT. KAI Tidak Tepat

JAKARTA – Pengamat kebijakan publik, Agus Pambagyo meminta agar pemerintah melakukan kajian terlebih dahulu menyusul rencana Menteri BUMN, Erick Tohir, mengakuisisi PT. INKA ke PT. KAI. Bahkan anggota Komisi VI DPR-RI, Mufti Anam meminta agar rencana merger tidak dilaksanakan.
“Lakukan studi yang cermat dan laksanakan kajian secara mendalam. Tapi untuk studinya pilih lembaga yang kompeten,” demikian diungkapkan Agus Pambagyo di Jakarta, Rabu (28/10/2020).
Dia menegaskan bahwa dirinya tidak setuju atas rencana Menteri BUMN me-merger PT. KAI denga PT. INKA.
“Bisa hancur dua duanya, saat PT. KAI yang jaman Pak Jonan, (Menhub 2014-2016, red.) bagus, sekarang merosot lagi kinerjanya bahkan kembang kempis karena disuruh ngurus yang lain -lain yang tidak ada urusannya dengan PT. KAI. Sekarang kan PT. KAI disuruh ngurus LRT, ngurus KCIC, hingga kondisinya sekarang turun lagi,” ujar Agus.
Masih kata Agus, dirinya mendengar yang melakukan kajian dan studi terkait merger perusahaan BUMN ini adalah Bahana dan Danareksa Securitas yang notabene mereka adalah perusahaan keuangan. Laiknya, kata dia, sebelum melakukan kajian, carilah atau tunjuk lembaga studi yang betul-betul bagus dan memiliki kapabilitas yang teruji, sehingga lembaga tersebut  bisa melakukan kajian yang visibel sesuai tuntutan.
“Saya melihat dalam melakukan holdingisasi dan merger ini, pemerintah kurang  melalui studi dan kajian yang mendalam. Pemerintahan sekarang memang  rajin  melakukan merger perusahaan negara yang pada akhirnya kinerjanya juga masih belum teruji. Dulu antara lain bikin holding pertambangan, migas dan BUMN Farmasi, di mana langkah ini, pemerintah nampaknya meniru perusahaan Singapura Temasek dan Khasanah Malaysia yang tentu kondisi dan situasinya berbeda. Saat ini kinerja PT. INKA lagi moncer, karena pemasarannya Budi Noviantoro itu bagus, sementara disatu pihak PT. KAI lagi turun, jadi kalau dimerger, pasti hancur dua-duanya,” tambah Agus.
Terpisah, pengamat transportasi dari MTI (Masyarakat Transportasi Indonesia), Djoko Setiowarno mengatakan, PT. INKA, saat ini sedang mengalami perkembangan yang cukup bagus. Inovasi dan kreatifitas pengembangan usahanya sudah mulai menampakkan hasilnya.
“Diberi kepercayaan negara lain untuk memproduksi kereta dan loko, membangun jaringan kereta beserta sarananya yang menghubungkan beberapa negara di Afrika. Inovasi produksi bus listrik juga dapat dimanfaatkan oleh Ditjenhubdat, Kemenhub dalam mengembangkan program transportasi umum di daerah dengan skema Buy the Service,” kata Joko.
Sikap tidak setuju juga dikemukakan Pengamat Transportasi dan mantan wartawan transportasi, MS Hendrowijono. “Mungkin tujuannya benar tetapi menurut saya tidak tepat. Masak manufacture digabung dengan operator,” kata Hendrowijono.
Menurut  Hendrowijono, opsi yang diwacanakan pemerintah dengan tujuan agar INKA dan KAI maju, dan negara mendapat manfaat. Cuman saat ini INKA sudah punya pabrik baru, fix cost tinggi, butuh proyek, dan disisi lain pasar domestik hanya dari KAI, itupun baru tiga tahun terakhir.
Karena itu pula, Hendrowijono yang semasa jadi wartawan banyak meliput perkeretaapian Indonesia mengaku dirinya setuju dengan pernyataan anggota Komisi VI DPR-RI Mufti Anam yang meminta agar rencana akuisisi PT. INKA ke PT. KAI dikaji ulang.
“Oh ya, saya  setuju pernyataan pak Anam sebagai Anggota DPR RI Komisi VI, yang meminta agar  rencana akusisi INKA ke KAI dikaji ulang,” tandasnya.
Masih kata dia, mungkin lima tahun lagi kereta KAI sudah baru semua, tetapi apakah INKA harus ditutup. Oleh karena itu dia  mendesak perlu penetrasi ke pasar global dan itu harus diraih. “Kalau tidak ada proyek, akuisisi INKA akan membebani keuangan KAI yang lagi terdampak pandemi covid-19,” paparnya.
Dirinya khawatir kalau INKA jadi anak perusahaan, pemerintah Congo akan balik kanan dan memilih China atau Turki, kalau ini terjadi celaka dua belas. “Megaproyek batal, INKA masuk KAI tanpa proyek, yang terjadi KAI ambruk. Apalagi di KAI ada Direktorat Sarana, dan kalau tidak ada perampingan alias PHK, entah orang INKA atau orang Direktorat Sarana KAI yang double cost. Dulu Pak Jonan sudah sangat bagus  mereformasi  KAI, jadi saya sangat menyayangkan kalau KAI ambruk,” tutupnya prihatin. (kuz)

2,083 kali dilihat, 26 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *