Produk Kerajinan IKM Yogya Mampu Bersaing di Pasar Domestik Maupun Global

Produk kerajinan dari industri kecil dan menengah (IKM) Yogyakarta yang ditampilkan pada Pameran Kerajinan Jogja Istimewa 2020 di Plasa Industri, Kementerian Perindustrian, Jakarta. Pameran yang berlangsung selama empat hari, tanggal 10-13 Maret 2020, diikuti sebanyak 55 IKM..

JAKARTA-  Daerah Istimewa Yogyakarta,  termasuk salah satu daerah yang  sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM) nya telah berkembang dan variatif. Diantaranya, industri logam mulia, kimia, hasil pertanian dan kehutanan, fesyen, kuliner, serta kerajinan.

‘’ Daya saing IKM Yogyakarta dinilai mampu kompetitif baik di kancah domestik maupun global, sehingga menjadi barometer perkembangan ekonomi kreatif di Pulau Jawa,’’kata Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Agus Tavip Riyadi pada pembukaan Pameran Kerajinan Jogja Istimewa 2020 di Plasa Industri, Jakarta, Selasa (10/3/2020).

Pameran yang berlangsung selama empat hari, pada  10-13 Maret 2020, diikuti sebanyak 55 IKM. Mereka berasal dari Kota Yogyakarta (12 IKM), Kabupaten Bantul (15 IKM), Kab. Sleman (17 IKM), Kab. Gunungkidul (5 IKM), dan Kab. Kulonprogo (6 IKM).

Menurut Agus Tavi,secara umum, industri yang terdapat di Yogyakarta adalah industri kecil. Pada kenyataannya, hasil industri di wilayah Yogyakarta, utamanya produk kriya (kerajinan), fesyen dan kuliner telah banyak diminati konsumen luar negeri. Bahkan hingga kini, Yogyakarta memiliki lebih dari 78 ribu unit usaha sektor IKM, yang sebagiannya punya potensi dobrak pintu ekspor.

Oleh karena itu, ucap Agus Tavip, Kemenperin memberikan apresiasi kepada para pelaku IKM yang berasal dari Kota Gudeg atas partisipasinya pada Pameran Kerajinan Jogja Istimewa 2020. Upaya ini diharapkan dapat memperluas jaringan dan pasar mereka.

Sementara Sekretaris Daerah D.I. Yogyakarta, Kadarmanta Baskara Aji menyampaikan, industri kerajinan menjadi salah satu pendukung utama bagi perekonomian daerah.

“Sektor andalan kita memang ekonomi kreatif, yang di antaranya disumbangkan cukup besar oleh industri kerajinan,” jelas Kadarmanta.

Di tengah kondisi wabah virus korona, Pemerintah Daerah D.I. Yogyakarta kini fokus meningkatkan kunjungan wisatawan dalam negeri.

“Sebab wisatawan mancanegara memang berkurang, bukan karena mereka takut datang, tetapi jadwal penerbangan yang ditutup oleh negara mereka,” tuturnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan D.I. Yogyakarta, Aris Riyanta mengemukakan, pelaku IKM yang dibawa pada pameran kali ini sudah menghasilkan berbagai produk premium atau berkualitas, yang sebagian telah menembus pasar ekspor.

“Produk industri Yogyakarta yang punya orientasi ekspor, antara lain furnitur dan produk kulit,” jelasnya.

Data Dinas Perindag Kota Yogyakarta menunjukkan, nilai ekspor D.I. Yogyakarta sepanjang tahun 2018 mencapai 338,02 juta  Dolar AS atau naik 13,96 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar 296,61 juta Dolar AS. Komoditas yang berandil besar dalam meningkatkan nilai ekspor DIY tersebut, di antaranya pakaian jadi tekstil, mebel kayu, sarung tangan kulit, biji vanila dan minyak atsiri.(Lili).

375 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *