Program P3DN Wujud Keberpihakan kepada Industri Nasional

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono memberikan sambutan pada acara Forum Bisnis dan Apresiasi Peningkatan Penggunaan Produk dalam Negeri (P3DN) di Jakarta, Selasa (10/12/2019).

 

JAKARTA-Pemerintah terus membangun daya saing industri nasional yang berbasis pada kemampuan kompetitif sumber daya manusia dan keunggulan komparatif sumber daya alam. Namun demikian, industri nasional akan tumbuh dan berkembang jika produknya digunakan, baik untuk mencapai skala ekonomi maupun peningkatan kualitas produk.

“Oleh karena itu, program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dilaksanakan sebagai amanat Undang-Undang dan sebagai wujud keberpihakan pemerintah kepada industri dalam negeri,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono pada Forum Bisnis dan Apresiasi P3DN di Jakarta, Selasa (10/12/2019).

Sekjen Kemenperin menyampaikan, sejalan dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2018 tentang Pemberdayaan Industri serta Peraturan Menteri Perindustrian No 2 Tahun 2014 tentang Pedoman P3DN, setiap Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah dan BUMN diwajibkan dan diharapkan secara proaktif membentuk Tim P3DN.

“Berdasarkan peraturan tersebut, Tim P3DN berfungsi melakukan koordinasi, pengawasan dan evaluasi pelaksanaan P3DN di setiap lingkungan instansi, dan juga melakukan penafsiran final terhadap permasalahan mengenai kebenaran besaran capaian TKDN,” jelasnya.

Dalam menjalankan tugasnya, menurut Sigit, Tim P3DN akan berkoordinasi dengan Kelompok Kerja (Pokja) Tim Nasional P3DN yang terbagi dalam tiga fungsi, yaitu Pokja Pemantauan P3DN, Pokja TKDN serta Pokja Sosialisasi, guna memaksimalkan penyerapan penggunaan produk serta meningkatan fungsi monitoring dan evaluasinya.

“Kami berharap dengan terbentuknya Tim P3DN di masing-masing Kementerian/Lembaga maupun BUMN Nasional, komitmen implementasi P3DN di masing-masing instansi dapat lebih dimaksimalkan dalam pengadaan barang/jasa,” imbuhnya.

Upaya tersebut diyakini berdampak terhadap penurunan importasi dan penguatan struktur industri manufaktur, sehingga mampu membuka lapangan pekerjaan baru, mengurangi defisit perdagangan melalui ekspor dan substitusi impor, meningkatkan pemasukan pajak, serta berdampak pada bergeraknya ekonomi masyarakat. (Lili)

 

 

 

232 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *