Indonesia Lumbung Kayu Terbesar di Dunia harus Kuasai Pasar Global

Direktur Kerjasama Pengembangan Ekspor Ditjen PEN(Kemendag,Marolop Nainggolan pada acara 4th Indonesian Lightwood Cooperation Forum (ILCF) . 

YOGYAKARTA– Indonesia merupakan salah satu lumbung kayu terbesar di dunia sehingga seharusnya dapat menguasai pasar global. Kayu ringan sebagai salah satu jenis kayu yang juga dimiliki oleh Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar, karena salah satu tuntutan pasar saat ini adalah jenis kayu yang lebih ramah lingkungan.

‘’ Sengon sebagai salah satu jenis kayu ringan memiliki potensi ini karena memiliki masa tanam hanya sekitar 3-5 tahun dan dirasa sesuai dengan permintaan pasar global khususnya Eropa.,’Kata Direktur Kerjasama Pengembangan Ekspor Ditjen PEN(Kemendag,Marolop Nainggolan pada acara  4th Indonesian Lightwood Cooperation Forum (ILCF) dalam keterangan tertulisnya , Selasa (15/10/2019).Adapun acara  4 th ILCF itu sendiri diselenggarakan Kementerian Perdagangan (Kemendag) di Institut Pertanian STIPER (Instiper) Yogyakarta.

Namun demikian kata Marolop lebih lanjut, Indonesia perlu memproduksi produk-produk kayu ringan inovatif dengan yang mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi, bukan sekedar classical commodities. Sehingga produk Indonesia dapat menjadi pioneer mengalahkan produk pesaing dari Tiongkok, khususnya di pasar Eropa. Pasalnya, selama ini bahan baku produk kayu ringan Tiongkok diimpor dari Indonesia untuk kemudian diolah menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Menurut Marolop, kayu ringan adalah bagian dari produk technical wood, dimana tren ekspor produk technical wood Indonesia ke dunia pada tahun 2014-2018 sebesar 1.49%, dengan peringkat negara tujuan utama ekspor di tahun 2018 adalah 1) Jepang sebesar  847,6 juta DolarAS; 2) RRT sebesar  596,2 juta Dolar AS; 3) Amerika Serikat sebesar  472,5 juta Dolar AS; serta beberapa negara di Eropa berada pada peringkat 10 besar, yaitu: 6) Inggris sebesar  149,2 juta Dolar AS; 7) Belanda sebesar 126,8 juta Dolar AS; dan 10) Jerman sebesar  92,5 juta Dolar AS.

‘’ Melihat besarnya nilai ekspor dan potensi produk tersebut, maka dukungan Kementerian Perdagangan diperlukan dalam penyelenggaraan Indonesian Lightwood Cooperation Forum (ILCF) 2019,’’tuturnya

Dijelaskan Marolop, penyelenggaraan ILCF 2019 merupakan kolaborasi antara Kementerian Perdagangan, Indonesian Light Wood Association (ILWA), Swiss Import Promotion Programme (SIPPO), Instiper Yogyakarta didukung oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia dan Bank Rakyat Indonesia, yang diselenggarakan sebagai side event dari Trade Expo Indonesia 2019.

Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional berharap, kegiatan ini dapat menstimulasi gairah industri kayu ringan dalam negeri untuk lebih berkarya dan mendapatkan inspirasi akan contoh pengaplikasian kayu ringan yang lebih modern dan futuristik di pasar global.

“Selama ini kayu ringan, sering dikategorikan kayu sembarang atau kayu murah, hanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan panel barecore atau pengisi blockboard bernilai tambah rendah, dengan memanfaatkan teknologi dan menyasar pasar yang tepat, kayu jenis ini akan memberikan keuntungan yang berlipat ganda,” tutur Marolop. (Lili)

 

670 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *