Setelah Wiranto Ditusuk, IPW Minta Polisi Waspadai Kelompok yang Ingin Gagalkan Pelantikan Presiden

 

Jakarta — Dalam catatannya, Ketua Presidium Indonesian Police Watch Neta S Pane minta agar polisi dan jajaran intelijen mewaspadai manuver politik kelompok yang ingin menggagalkan pelantikan Jokowi sebagai Presiden pada 20 Oktober mendatang. Dikutip dari portal milik Kepolisian Daerah Metro Jaya, Kamis (10/10/2019), Neta menyebut terdapat tiga kelompok koalisi yang mengkamuflase manuver politik dengan aksi-aksi demonstrasi anarkis untuk menolak UU KUHP, UU KPK, dan lain-lain.

Dari penelusuran Indonesian Police Watch (IPW), menurut Neta S Pane, kelompok-kelompok itu akan memperalat oknum mahasiswa dan kalangan preman dalam menjalankan aksi.

Ketiga kelompok koalisi yang bermanuver dan berusaha menggagalkan pelantikan Jokowi itu terdiri dari koalisi kelompok radikal keagamaan dan koalisi kelompok sekuler yang tidak puas dengan pemerintahan Jokowi karena kepentingannya tidak terakomodir serta kelompok yang mencoba memainkan bargaining posisi dengan Jokowi.

Meskipun IPW berkeyakinan manuver ketiga kelompok tidak akan menuai hasil, tapi jajaran kepolisian tetap perlu mencermati agar aksi-aksi yang dikamuflase ketiga kelompok tidak menimbulkan kekacauan dan kerusakan di ibukota Jakarta.

Neta juga mencatat, aksi demonstrasi di sejumlah kota di Papua yang berujung pada terjadinya kerusuhan sosial membuat konsentrasi Polri terbelah. Penempatan personil menjadi terbagi antara mengamankan Papua dan berkonsentrasi mengantisipasi keamanan situasi ibukota Jakarta.

Untuk itu, mempersiapkan keamanan Jakarta saat pelantikan Jokowi sebagai Presiden, Polri perlu meminta tambahan dukungan TNI untuk mengamankan objek-objek vital.

“Selain itu, intelejen kepolisian perlu memantau kantong-kantong radikalisme di seputar Jabodetabek serta memburu penyandang dana aksi demo yang berniat menggagalkan upaya pelantikan Jokowi sebagai presiden pada 20 Oktober mendatang,” tegas Ketua Presidium Indonesian Police Watch.

Tindakan persuasif, perepentif, dan antisipatif yang tegas perlu dilakukan jajaran kepolisian, jauh sebelum pelantikan presiden dilakukan. Aksi “jangan biarkan telur menjadi naga” harus dilakukan Polri tanpa kompromi.

Meski mungkin banyak pihak yang akan mengecam tindakan tegas itu, tapi Polri jangan bergeming. Sebab misi Polri tiada lain, yakni mengamankan konstitusi dan mengamankan masyarakat luas dari kekacauan yang akan dilakukan kelompok kelompok radikal yang bersekutu dengan kelompok sakit hati. Polri harus berani bersikap tegas demi menjaga keamanan masyarakat luas dan sikap tegas Polri itu pasti akan didukung masyarakat luas.

214 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *