Menperin Harapkan Industri Utamakan Serap Garam Lokal

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Achmad Sigit Dwiwahjono menyaksikan Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Penyerapan Garam Lokal Tahun 2019-2020 antara industri dengan petani garam di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 6 Agustus 2019.

JAKARTA – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berharap industri pengguna garam agar  mengutamakan menyerap garam lokal yang dihasilkan petani di dalam negeri.

Pernyataan itu disampaikan Airlangga pada acara Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Penyerapan Garam Lokal tahun 2019-2020  antara industri  dengan petani garam, di Jakarta, Selasa (6/8/2019).

Pada MoU tahun ini, garam lokal akan diserap oleh industri sebanyak 1,1 juta ton. Target tersebut meningkat dari capaian serapan tahun lalu sebesar 1.053.000 ton. Kesepakatan ini sebagai wujud nyata dari kerja sama antara 11 industri pengolah garam dengan 164 petani garam di dalam negeri.

‘’Kerjasama ini dilakukan untuk meningkatkan kesejhateraan petani garam sekaligus guna menjamin ketersediaan garam sebagai bahan baku dan bahan penolong bagi sektor industri’’ujar Menperin.

Para petani garam itu berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

“Kami mengapresiasi kepada para industri pengolah garam dan para petani garam atas sumbangsih yang telah diberikan kepada Indonesia, khususnya pada sektor komoditas pergaraman nasional dalam membangun ketahanan industri dan pangan nasional,” tutur Menperin.

Menperin menjelaskan, garam merupakan komoditas strategis yang penggunaannya sangat luas, mulai dari konsumsi rumah tangga, industri pangan, industri farmasi dan kosmetik, pengeboran minyak hingga industri klor alkali.

Kata Airlangga, berdasarkan neraca garam nasional, kebutuhan garam nasional tahun 2019 diperkirakan sekitar 4,2 juta ton.

Jumlah tersebut terdiri atas kebutuhan industri sebesar 3,5 juta ton, konsumsi rumah tangga 320 ribu ton, komersial 350 ribu ton, serta peternakan dan perkebunan 30 ribu ton.

Garam produksi dalam negeri hingga saat ini baru dapat memenuhi untuk kebutuhan konsumsi, serta beberapa industri seperti pengasinan ikan, penyamakan kulit, dan water treatment. Oleh karena itu, seiring tingginya kebutuhan garam di pasar domestik, Kemenperin terus memacu peningkatan kualitas garam lokal, sehingga dapat juga teserap oleh industri skala besar.

Adapun sektor industri yang paling banyak menggunakan garam sebagai bahan bakunya, antara lain industri klor alkali (CAP), industri farmasi, industri pengeboran minyak, dan industri aneka pangan.

“Untuk itu, kita perlu meningkatkan kualitas garam produksi dalam negeri,” pungkas Menperin. (Lili)

330 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *