Kemendag, Kemenperin dan Belanda Bimbing Pelaku Usaha Natural Ingredients ke Pasar Eropa

Direktur Kerjasama Pengembangan Ekspor, Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN), Kementerian Perdagangan, Marolop Nainggolan mengatakan kekayaan aam Indonesa cukp melimpah,salah satunya remdaah rempah. Karena it pmerintah memimbing pelaku usaha di sektor tesebut untuk bisa meningkatkan ekspor, salah satuneara tuuan ekspornya ke nega-negara Eropa.

 

BOGOR –  Tidak diragukan bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah. Kekayaan alam menjadikan Indonesia memiliki banyak produk seperti minyak atsiri, ekstrak tumbuhan dan ekstrak rumput laut dan banyak produk lainnya yang dapat ditawarkan kepada pasar dunia, terutama ke pasar Eropa.

Produk-produk ini, dikategorikan ke dalam natural ingredients,  banyak digunakan sebagai bahan baku terutama untuk industri makanan, kosmetik dan kesehatan, baik untuk texturizing, flavoring, fragrance, dan lain sebagainya. Produk natural ingredients Indonesia sangat potensial untuk memanfaatkan pasar Eropa, mengingat Indonesia memiliki kapasitas produksi yang tidak dapat diabaikan. Namun di sisi lain, daya saing masih menjadi tantangan bagi produsen natural ingredients Indonesia untuk memasuki pasar Eropa.

“Potensi ekspor produk natural ingredients ke negara-negara Eropa sangatlah besar, akan tetapi sejauh ini jumlah pemenuhan ekspor akan produk dimaksud seperti ekspor essense oil hanya sebesar 3% dan ekstrak hanya sebesar 0.03%, bahkan tidak mencapai ke angka 1%. Prosentase tersebut haruslah menjadi tantangan bagi Indonesia dalam meningkatkan ekspor produk natural ingredients ke pasar Eropa”, tutur Direktur Kerjasama Pengembangan Ekspor, Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN), Kementerian Perdagangan, Marolop Nainggolan, di Bogor, Kamis (1/8/2019).

Marolop melanjutkan, melihat potensi ini pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda bersepakat  melakukan kerja sama. Lembaga CBI Belanda (the Centre for the Promotion of Imports from developing countries, the Netherland) dengan Kementerian Perindustrian pada  16 Mei 2019 telah menandatangani kerjasama untuk jangka waktu 5 (lima) tahun hingga 2024 , memberikan bimbingan kepada pelaku terpilih agar mampu memenuhi persyaratan dan selera pasar untuk menembus pasar Eropa. Kementerian Perdagangan, merupakah salah satu pihak terkait dalam implementasi kerjasama tersebut bersama-sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan,  Dewan Atsiri Indonesia (DAI), Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (PERKOSMI),  GP Jamu dan Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (ASTRULI).

Kata Maroop, untuk mendukung kerjasama tersebut terutama dalam kaitan tugas Kementerian Perdagangan dalam peningkatan ekspor, Ditjen PEN melalui Direktorat Kerjasama Pengembangan Ekspor melakukan kegiatan menjaring peserta yang akan mengikuti program pembimbingan  meningkatkan daya saing di pasar. Fokus produk terbagi atas industri makanan dan suplemen makanan serta industri kosmetik di Eropa. Target jumlah peserta dalam program ini adalah sebanyak 60 perusahaan.

Produk natural ingredients yang masuk dalam program tersebut meliputi minyak atsiri (essential oils), ekstrak tumbuhan (bahan tradisional untuk food supplement dan kosmetik, serta ekstrak rumput laut.

“Indonesia menghasilkan ekstrak tumbuhan yang digunakan sebagai bahan baku makanan maupun supplement dalam skala yang relatif besar. Ada juga minyak atsiri yang diproduksi secara komersial di Indonesia hingga puluhan jenis produk. Hal ini merupakan potensi besar, maka perlu didorong ekspornya, khusunya ke Eropa karena permintaannya relatif besar”, papar Marolop.

Disebutkan Marolop, untuk minyak atsiri, produksi utama Indonesia antara lain adalah terpentin (dari pinus), cengkeh (clove), cajuput (kayu putih), pala (nutmeg), sereh (citronella), dan nilam (patchouli) menyumbang lebih dari 90% dari total ekspor minyak atsiri Indonesia saat ini. Untuk ekstrak tanaman komoditas utama berasal dari kopi, teh, kakao, dan rempah-rempah.

‘’Pasar ekstrak sangat besar dan banyak pembeli di Eropa mencari ekstrak komoditas yang diproduksi Indonesia serta ekstrak inovatif. Sementara itu, rumput laut juga digunakan dalam berbagai industri makanan, kosmetik, hingga manufaktur sebagai emulsifier, softening agent, atau fertilizer,’tuturnya.

Indonesia juga memiliki potensi untuk ekspor produk-produk natural ingredient seperti novel food and ingredients, produk yang diproses secara tradisional telah digunakan sejak lama namun belum teruji secara klinis, sebagai contoh produk novel food/ingredients adalah andaliman yang merupakan bumbu rempah khas di daerah Batak Toba serta tanaman Pogu Tano yang dipercaya berkhasiat mengobati diabetes. (Lili)

451 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *