INILAH ASTUTI PENOLONG JEMAAH HAJI, SEKALI STARTER LANGSUNG JRENG

 

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat menjajal Astuti, Astrea Tujuh Tiga.

 

MINA — Namanya Astuti. Bodi boleh tua, namun semangatnya masih muda. Maklum, usianya kini sudah paruh baya, tepatnya 45 tahun. Tapi ia adalah penolong jemaah di Mina. Antar sini-sana, tak henti jua. Siapakah dia? Itulah Astuti alias Astrea Tujuh Tiga.

Sesuai namanya, kendaraan roda dua jenis Super Cub 90 ini keluaran tahun 1973. Jika melihat usianya, tentu sudah sangat mafhum kalau penampilannya tidak secanggih sepeda motor zaman sekarang.

Tapi jangan salah sangka, kendati tua, Astuti sekali starter langsung ‘jreng’. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pun sempat menjajal Astuti, petang kemarin. Di hadapan para petugas dan jemaah, Menag mencoba menghidupkannya.

“Alhamdulillah, meski tua si Astuti ini distarter langsung jreng,” kata Menag saat menguji coba kehandalan Astuti. “Ini sepeda motor yang bodinya tua tapi semangat muda,” imbuh Menag yang membuat suasana tambah akrab.

Sejak penyelenggaraan haji kurun 1980-an, Astuti sudah digunakan sebagai pengangkut jemaah yang kelelahan atau sakit dari kantor Misi Haji Mina ke tenda.

Aktivitas jemaah haji yang padat di Mina memang memerlukan kondisi fisik prima. Apalagi sebaran tenda yang cukup luas, membuat jemaah perlu stamina yang fit. Meski sebagian besar jemaah sudah mempersiapkan dengan baik, ada juga yang kelelahan, sakit, hingga kesasar. Dan Astuti adalah penolongnya.

Seluruh unit kendaraan roda dua ini berwarna merah. Jumlahnya kini tinggal delapan dan yang bisa dioperasikan oleh Posko Satgas Mina pada tahun ini hanya 5 buah.

Pemerintah Saudi sebenarnya melarang penggunaan moda transportasi di Mina, namun karena hubungan yang sudah terjalin baik, Indonesia mendapat perlakuan istimewa. Pantauan lapangan, tidak ada negara lain yang difasilitasi penggunaan transportasi serupa. Sementara untuk menambah jumlah kendaraan, masih belum mendapat izin.

“Semua kendaraan yang melintas di Mina, harus dipasangi sticker resmi otoritas Saudi, dan itu yang sulit didapat,” pungkas Menag.

813 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *