SATTAR TABA MENYULAP LABA KBN NAIK 2.500 PERSEN

SEPORSI nasi timbel dihidangkan di meja rapat di dalam ruangan kantor Direktur Utama PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero).

Seorang pegawai berpakaian putih juga mengangsurkan kotak kecil berwarna putih. Di dalamnya sayur asam yang dibungkus plastik.

Nasi timbel tidak termasuk makanan mewah. Makan siang pelajar SMA dan mahasiswa di Jakarta, malah bisa lebih mahal. Maka, sungguh tidak nyana, menu makan siang yang sederhana itu dihidangkan oleh perusahaan yang baru saja mencatat prestasi fantastis, melipatgandakan laba hingga 2.500 persen.

 

Direktur Utama PT KBN (Persero), Sattar Taba, sebelum santap siang dimulai, dia minta maaf tidak menikmati hidangan yang sama dengan yang dihidangkan. Pria berwajah bersih itu lalu membuka kotak plastik berisi bubur. Dia mengatakan bubur itu buatan istrinya.

Bubur itu pula menu makan siang lelaki yang dijuluki Tukang Sulap karena berhasil mengubah jumlah pendapatan KBN dari 14 miliar rupiah di tahun 2012 melonjak menjadi 267, 14 miliar rupiah setahun kemudian. Setelah dikurangi pajak, angka itu menjadi 259,13 miliar rupiah.

Angka-angka fantastis itu terungkap dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di kantor Kementerian BUMN, 30 Juni 2014. Direktur Utama PT KBN (Persero), Sattar Taba, pada acara penting itu mengungkap bahwa posisi neraca per 31 Desember 2013 adalah 1,26 triliun rupiah.

Julukan Tukang Sulap (The Magician) diberikan para panelis penghargaan inspiring alumni Fakultas Ekonomi Universitas Hasanudin Makassar. Sattar Taba meraih penghargaan, setelah para panelis menilainya memiliki cara berfikir out of the box, berani melawan arus, dan menjalankan bisnis not as usual.

Semula agak alot juga memancing Sattar Taba menguraikan rentetan prestasinya. Dia sangat menjaga kesan agar tidak gemar mengumbar pencitraan. Namun setelah diingatkan bahwa, pengalaman suksesnya dapat menjadi ilmu yang bermanfaat bagi orang lain, barulah pria kelahiran Makassar itu bicara perlahan-lahan.

Tidak heran jika PT KBN (Persero) menghidangkan menu makan siang sederhana. Sebab kesederhanaan dan kerja keras merupakan pilihan bagi seorang Sattar Taba untuk memulai rangkaian keberhasilan. Sepanjang hidupnya, Sattar bergelimang dengan kerja keras yang berbuah prestasi.

Panelis penghargaan inspiring alumni Fakultas Ekonomi Universitas Hasanudin menyebut Sattar memiliki spesialisasi unik, yakni ‘menghidupkan mobil mogok’. Kira-kira, seperti itu pula kondisi KBN sebelum Sattar datang dan menduduki kursi Direktur Utama.

Mengawali ceritanya, Sattar Taba berkali-kali mempersilakan wartawan meminum teh panas yang terhidang di atas meja.

Menurutnya, BUMN membutuhkan sosok dengan integritas sangat tinggi. “Kalau saya tidak memiliki integritas tinggi, saya cukup menaikkan laba KBN 30 persen, itu sudah memenuhi ketentuan,” tutur Sattar di tengah ceritanya. “Di sini banyak kesempatan untuk memperkaya diri sendiri. Perusahaan ini sudah lama tidur dan memang dibiarkan tidur agar tidak tampak dari luar,” lanjutnya.

Kawasan Berikat Nusantara memiliki aset senilai 18 triliun rupiah. Sayangnya aset sebanyak itu kurang dimanfaatkan. Pendapatan laba pun ala kadarnya. Sattar Taba menciptakan lompatan kuantum. Setahun dipimpinnya, laba KBN melonjak drastis hingga 2.500 persen. Lompatan sangat luar biasa itu, bagai sihir.

 

Sattar memang tak pernah memanggil dukun untuk membantu pekerjaannya. Dia menggelar strategi jitu. Sattar menggeber pengetatan dan efisiensi pembiayaan. Ia juga membalik kebijakan pengelolaan perusahaan.

Selama berdiri sejak 1960 hingga 2012, strategi bisnis KBN berupa sistim penyewaan lahan sebesar 70 persen dan kelola 30 persen. Padahal sewa lahan dibanderol sangat murah, hanya 12 ribu rupiah per meter persegi. Masa sewa pun sangat panjang, hingga 20 tahun. Pembayaran sewa dilakukan bulanan.

Berpuluh tahun, strategi yang terbukti tak jitu itu terus dikerjakan. Akibatnya aset perseroan menyusut dari tahun ke tahun. Bahkan sesaat sebelum Sattar datang, aset KBN hanya bernilai miliaran rupiah.

Sattar Taba menggebrak dengan melakukan perubahan. Ia membalik keadaan. Pekerjaan besar menyulap jumlah laba perseroan ia mulai dengan mengubah visi, misi, dan anggaran dasar perusahaan. Dia juga membalik strategi 80 persen kelola lahan, dan hanya 20 persen yang disewakan. Tarif sewa pun dinaikkan, sehingga lebih adil bagi perseroan dan sesuai perkembangan.

Strategic Business Unit (SBU) yang dilakukan ayah empat anak itu segera memperlihatkan hasil gemilang. Setahun di bawah kepemimpinannya, di tahun 2013, laba KBN melesat hingga 2.537 persen.

Sattar makin leluasa setelah KBN ditetapkan sebagai kawasan multipurpose. Selain menyewakan dan mengelola lahan untuk logistik, perseroan juga bisa memanfaatkan lahan untuk bisnis.

Sattar belum berhenti. KBN membangun dermaga sepanjang 1.500 meter di Marunda, Jakarta Utara. Proyek itu berbudget sebesar 2,1 triliun rupiah. Sattar berharap dermaga nantinya berkapasitas 150.000 ton hingga bisa disinggahi kapal-kapal besar antarpulau.

Dermaga Marunda diharapkan mampu mengurangi masalah waktu bongkar-muat di Pelabuhan Tanjung Priok, khususnya untuk kapal-kapal domestik yang melayani sejumlah pelabuhan di Indonesia.

Di Marunda pula, Sattar membangun fasilitas area penumpukan, pergudangan tertutup, cement mill, juga terminal BBM dan gas, pengadaan air bersih.

Cement Mill diproyeksikan bisa membidik pangsa pasar 10 persen dari kebutuhan semen di Jakarta per tahun 46 juta ton. Sattar mengaku sedang membahas tawaran sebuah perusahaan semen raksasa dunia yang berminat berinvestasi di Marunda.

Pembangunan dermaga Marunda dan fasilitas-fasilitas di dalamnya itu merupakan proyek jangka pendek.

Jangka menengah, membangun Power Plant kapasitas 2 X 1.000 Mega Watt, untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan listrik DKI Jakarta. Proyek itu membuat KBN merogoh kocek sebesar 30 triliun rupiah.

Jangka panjang, KBN menggeber reklamasi lahan seluas 450 hektar yang diintegrasikan dengan proyek Giant Sea Wall milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 2018 – 2020.

Proyek besar itu membutuhkan suntikan dana sebesar 30 triliun rupiah. “Biaya sebesar itu berasal dari konsorsium dengan Ocean White China, China Contractors, KBN, PLN, dan satu perusahaan lokal. Nanti KBN siapkan kas internal 1 triliun rupiah, 5 triliun rupiah dari BRI dan Bank DKI,” ungkap Sattar.

Cakung tidak lolos dari perencanaan lelaki kelahiran Makassar itu. KBN akan membangun pergudangan internasional dan gedung perkantoran baru setinggi 20 lantai di depan kantor lama. Tidak jauh dari kantor pusat akan dibangun hotel. Sattar berkeyakinan, semakin banyak fasilitas yang dibangun akan membuat para pelaku usaha makin tertarik memanfaatkan jasa KBN.

KBN akan segera menjadi kawasan industri yang lengkap. Apa lagi Kementerian Perindustrian telah menetapkan KBN sebagai obyek vital industri nasional. Identifikasi itu akan menjadikan KBN kawasan berinvestasi yang sangat kondusif.

Untuk mengatasi masalah keamanan, KBN menandatangani kerjasama dengan TNI dan Polri. “Dengan dijadikannya KBN sebagai obyek vital industri nasional, masalah pengamanan menjadi prioritas kami, kerjasama dengan TNI dan Polri melengkapi jaminan keamanan dan kenyamanan bagi investor,” ungkap Sattar.

Sejumlah investor dari China, Taiwan, Jepang, Korea, dan sejumlah negara lain di Eropa sangat menuntut keamanan yang terjamin.

6,304 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *